-->

5 Kesalahan Manajer Baru yang Harus Dihindari

5 Kesalahan Manajer Baru yang Harus Dihindari

Di artikel ini catatan baru bakal bahas tentang kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan saat seseorang pertama kali menjadi manajer. Sehingga untuk kamu yang baru dapet promosi, dan baru saja menjadi seorang manajer, kamu bisa menghindari kesalahan-kesalahan ini.

Oh iya buat kamu yang baru aja mendapatkan promosi, selamat. karena ga semua orang bisa dapet kesempatan kaya gitu.

Itu berarti kamu udah ngebuktiin diri bahwa kamu Memang layak dan skill kamu memang sudah terbukti. Tapi menjadi seorang manajer itu butuh skill lain lagi. So, it’s not only about your ability untuk delivering your work tapi more than that, now it’s time for you to acquire new skill, yaitu skill bagaimana untuk bisa me-manage tim kamu dengan baik.

Karena me-manage tim itu butuh skill yang berbeda, saat kita hanya perform the job.

Jadi beda banget saat kita menjadi manajer, sama saat kita menjadi individual contributor.

Buat aku sendiri, pertama kali aku jadi manajer itu waktu aku setelah 3 tahunan kerja lah ya.

Dan saat itu pertama kali aku punya tim dan dihadapkan sama permasalahan-permasalahan baru.

Karena tidak cuma permasalahan tentang pekerjaan itu sendiri, namun juga aku harus mengatasi permasalahan yang terkait dengan mengelola tim atau mengelola orang lain.

I made a lot of mistakes, tapi dari situ juga aku bisa belajar, dan aku refleksi juga sehingga hopefully sekarang aku udah jadi manajer yang jauh lebih baik daripada yang sebelumnya.

Terlalu Khawatir

Jadi, sebagai orang yang punya kecendrungan perfeksionis, pertama kali jadi seorang manajer, aku itu.. apaya? terlalu fokus sama Quality Control (QC).

Terlalu fokus sama QC in pekerjaannya aku sendiri, sama QC in pekerjaannya tim daripada fokus untuk bagaimana aku bisa mengelola tim aku dengan baik. Bagaimana aku bisa mengembangkan skills dari team member aku.

Karena kecendrungan perfeksionis itu berarti aku juga punya high-expectation terhadap diri aku sendiri dan high-expectation terhadap orang lain.

Kecendrungan untuk Menjadi Superhero

Mistake yang kedua adalah aku punya kecendrungan untuk menjadi superhero atau penegak keadilan di kantor. Maksudnya gimana? Jadi, aku itu kadang, pengen banget ngebantu orang lain, pengen banget ngebantu team members gitu ya.

Sehingga saat mereka menghadapi sebuah masalah, aku tuh punya kecendrungan untuk pengen menyelesaikan masalah tersebut.

Atau aku ingin ngebantu to a point where I actually solve the problems for them, gitu.

Itu sebenernya adalah hal yang kurang baik dan itu adalah sebuah kesalahan. Kenapa? Karena aku mengambil haknya dia untuk belajar. Dengan aku menyelesaikan masalah untuk dia, aku ngambil haknya dia untuk belajar dan menghadapi masalah itu sendiri.

Sehingga, akhirnya, satu, aku menciptakan ketergantungan yang tidak sehat atau aku membuat situasi dimana orang jadi tergantung sama aku untuk menyelesaikan masalah.

And I think it’s a mistake.

Tidak Mengenal Team Members dengan Baik

Mistake yang ketiga adalah tidak mengenal team members aku dengan baik.

Jadi, awal-awal aku menjadi manajer, beberapa tahun pertama, aku tu berpikir bahwa untuk menjadi professional, aku harus bener-bener memisahkan antara pekerjaan dan personal life.

Sehingga, aku memang tidak terlalu berusaha untuk mengenal orang lebih jauh. Hanya terbatas terhadap pekerjaan aja. Dan itu.. it might seem a little bit transactional to people, karena aku bener-bener membatasi kehidupan personal dan pekerjaan sehingga kadang-kadang akhirnya itu menghambat komunikasi dan orang jadi segan untuk akhirnya bisa menyampaikan masalah atau escalate sebuah problem ke aku.

Akhirnya komunikasi nya mandeg (terhambat) hanya karena I seem like I wasn’t approachable. 

Terlalu Cepat Menilai Seseorang

Mistake yang ke 4 adalah judging a fish by its ability to climb.

Maksudnya gimana? Jadi…I think ini adalah hal yang uniquely happen to new managers, karena itu adalah hal yang aku alamin juga dulu.

Mungkin aku terlalu cepat untuk beranggapan atau menilai seseorang tidak kompeten karena mereka tidak bisa perform their tasks.

Padahal mungkin aja, alasan mereka tidak bisa perform di job nya mereka itu bukan karena mereka ngga kompeten tapi lebih karena skill sets nya mereka itu mungkin tidak relevan dengan job descriptions nya.

Jadi sebagai manager, itu adalah tugasnya kita untuk memahami bahwa kita itu adalah layaknya conductor dalam orchestra. Jadi kita itu mesti bisa nge-prepare orchestra tersebut dengan baik, kita juga harus bisa memahami temponya, dinamik nya mesti gimana, dan kita juga mesti bisa memahami orang tertentu harus melakukan apa.

Jadi jangan sampai kita punya “the wrong people sitting on the wrong seat on the bus”.

Karena hal itu akan ber-impact kepada keseluruhan performance tim. Jadi, jangan terlalu quick to judge kalo misalnya orang itu tidak kompeten. Karena bisa saja dia salah duduk, gitu ya.

Dia melakukan sesuatu yang tidak relevan sama skill set nya. Jadi tugas manager adalah untuk bisa memahami hal itu.

Kita bisa membagi tugas yang relevan dengan skill set dari masing-masing orang dalam tim kita.

Menerima Masukan

Tidak menyadari the magic of “What do you think?” question.

Maksudnya gimana? Nah, ini adalah hal yang I wish I knew earlier.

Jadi, kalau misalnya di Indonesia atau di negara Asia pada umumnya, memang management style itu kan biasanya top-down. Ya kan?

Sehingga, manajer atau leader itu diharapkan bisa menyelesaikan semua problems untuk kemudian team membernya bisa execute on that.

Padahal mungkin saja, itu agak counterproductive ya, karena sebuah team itu pada hakikatnya harus complement each other.

Dan dengan bertanya “What do you think?” kepada team members..

Satu, itu akan ngebuat mereka merasa di apresiasi

Dua, mereka senang kalau opini mereka itu akhirnya bisa menjadi solusi

Yang ketiga, kita juga bisa make sure bahwa selalu ada fresh ideas.

Jadi, ini adalah sesuatu yang aku pelajarin. Along the way, selama aku menjadi manajer,

I wish I knew earlier, so I could implement that earlier. Saat aku bertanya “What do you think?”

“Menurut kamu gimana?” ke team members, biasanya, jawaban-jawabannya itu mungkin malah menjadi sebuah solusi yang aku gapernah pikirin sebelumnya.

Jadi, daripada membebankan diri aku sendiri dengan problems solving aja.

Dan menuntut orang lain untuk bisa mengeksekusi problem solving nya kita, akan sangat sangat lebih baik dan sangat sangat produktif jika kita membagi problem solving proses tersebut kepada team member kita.

Karena mungkin aja, solusinya bisa jadi lebih efektif dan lebih efisien.

Nah, semoga artikel kali ini ngebantu kamu untuk bisa menjadi manajer yang lebih baik.

Sehingga kamu tidak perlu melakukan kesalahan-kesalahan yang aku lakukan

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel